Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

JEJAK PETANI& PETERNAK, Indahnya Berbagi& Sinergi

Blog EntryOct 20, '08 1:16 PM
for everyone
Seminar Internasional Kambing Potong dan Perah
Cisarua-Bogor, 5-7 Agustus 2008

Sumber.
http://peternakan.litbang.deptan.go.id/?q=node/71


Penyelenggaraan seminar ini dimaksudkan untuk mencari jawaban atas adanya penilaian negatif (prejudice) terhadap ternak kambing yang selalu dipersepsikan sebagai perusak lingkungan. Kontribusi ternak kambing kepada masyarakat dan perekonomian negara sedang berkembang masih dianggap tidak ada/sangat rendah, karena produksi ternak kambing dianggap masih rendah dan produknya jarang masuk ke dalam sistem pemasaran formal. Lebih populernya ternak kambing hanya sebagai tabungan, yang baru dilihat bila dibutuhkan. Namun kenyataannya, paling tidak bagi masyarakat di negara Asia, kambing sebenarnya mempunyai peran penting sebagai sumber protein dan menjaga kestabilan kehidupan ekonomi keluarga petani di pedesaan. Pengembangan peternakan kambing akan membantu program mengentaskan kemiskinan, tercapainya keamanan pangan dan perbaikan tarap hidup dan kehidupan petani dipedesaan. Bahkan di beberapa negara di kawasan Asia, konsumsi daging kambing lebih banyak dari konsumsi daging lainnya. Belakangan ini ternak kambing juga banyak dimanfaatkan untuk produksi susu.

Disadari hal ini akan membantu peningkatan konsumsi gizi masyarakat disamping sebagai sumber pendapatan baru pada sub-sektor peternakan. Mengingat pentingnya peran ternak kambing, teknologi modern telah berkembang untuk meningkatkan produksi termasuk teknologi breeding/reproduksi, pembuatan silase, pemanfaatan limbah hasil pertanian, formulasi pakan lengkap, perkandangan dan pemanfaatan pupuk organik. Terkait dengan isu lingkungan, penggembalaan ternak kambing secara bebas dikhawatirkan mengganggu ekosistem wilayah bersangkutan. Dalam hal ini diperlukan keseimbangan antara sistem produksi yang diterapkan dan pelestarian lingkungan, dan ini harus menjadi perhatian seluruh petani/peternak ternak kambing.



Disadari bahwa ternak kambing memberikan kontribusi cukup berarti dalam mengentaskan kemiskinan dan membantu pembangunan masyarakat pedesaan, Food and Fertilizer Center (FFTC) for The Asian and Pacific Region, Balitnak dan Livestock Research Institute (LRI)-Taiwan bersama-sama melaksanakan Seminar Internasional Kambing Potong Dan Perah pada tanggal 5-7 Agustus 2008, bertempat di Hotel Seruni, Cisarua-Bogor. Tema seminar adalah ”Peningkatan produksi daging dan susu kambing melalui perbaikan teknologi dan imfrastruktur untuk petani kecil Asia”. Melalui seminar ini akan terjadi diseminasi teknologi yang sudah diperoleh di masing-masing negara, dan diharapkan akan terjadi kerjasama yang lebih erat di antara negara peserta seminar di kawasan Asia ini.

PELAKSANAAN KEGIATAN:

Seminar Internasional Kambing Potong dan Perah dihadiri oleh 71 peserta yang terdiri dari 11 orang peserta yang diundang langsung oleh FFTC berasal dari 7 negara di Asia (Malaysia, Indonesia, Phillipina, Thailand, Vietnam, Taiwan dan Korea Selatan) dan 4 delegasi dari FFTC. Disamping itu terdapat sekitar 56 peserta dari berbagai instansi/organisasi di Indonesia yaitu Puslitbangnak, Balitnak, Lolit Kapo, Ditjennak, LIPI, Universitas (Pajajaran, GAMA, Brawijaya, Papua dan IPB), HPDKI dan pelaku bisnis kambing (Swasta).

Selama 2 hari seminar, sebanyak 11 makalah undangan dari ke 7 negara telah dipresentasikan secara oral, dan 21 makalah dipresentasikan sebagai poster. Disamping itu Himpunan Peternak Kambing dan Domba Indonesia (HPDKI) telah memperkenalkan organisasinya berikut visi dan misinya dalam memajukan peternakan kambing dan domba di Indonesia.

Pada hari ketiga delegasi diajak berkunjung ke peternakan kambing perah PT. Bangun Karso di Bogor, ke perusahaan pengolahaan susu PT. Yummy Food Utama di Pasar Rebo, Jakarta serta ke Balai Penelitian Ternak di Ciawi, Bogor. Berdasarkan topik bahasan maka 11 makalah undangan dapat dikelompokkan menjadi 3 sub kelompok, sebagai berikut:

Perbaikan ternak kambing melalui breeding (3 makalah: Vietnam, Malaysia dan Indonesia).

Managemen produksi dan perbaikan imprastruktur untuk petani kambing skala kecil (3 makalah: Taiwan, Korea Selatan dan Malaysia).

Status dan tren produksi kambing saat ini di Asia (5 makalah: Thailand, Taiwan, Vietnan, Philipina, dan Indonesia).

Sedangkan makalah penunjang yang dipresentasikan dalam bentuk poster (21 makalah) merupakan hasil penelitian primer maupun review dari berbagai disiplin ilmu (Breeding/reproduksi: 6 makakah, Nutrisi: 11 makalah, Sosek: 2 makalah, Pasca panen: 1 malakah, dan Penyakit: 1 makalah).

Seminar ini sangat bermanfaat bagi peneliti lokal untuk bertukar pikiran menyangkut perkembangan ilmu dan teknologi pada ternak kambing khususnya kambing perah yang sedang berkembang di banyak negara khususnya di Asia. Beberapa catatan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian yang dipresentasikan dalam seminar tersebut antara lain:

Pemanfaatan bahan pakan lokal dan kontrol penyakit di Vietnam meningkatkan produtivitas ternak kambing sebesar 35%. Pengembangan kambing perah telah mampu meningkatkan pendapat petani di pedesaan sebesar 35-40%, dan memberikan kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu pengembangan kambing perah skala kecil merupakan strategi pemerintah Vietnam dalam meningkatkan kesejahteranan petani di daerah perbukitan dan pengunungan.

Suplai daging kambing di Malaysia sangat tergantung dari impor, produksi dalam negerinya baru bisa memenuhi 9% dari kebutuhan. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut pemerintah Malaysia telah menetapkan program breeding secara terstruktur bekerjasama dengan perusahaan swasta komersial sebagai multiflier/perbanyakan bibit. Disamping itu dilakukan penerapan teknologi tinggi seperti AI dan MOET.

Dari Taiwan dilaporkan pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai bahan pakan untuk membuat pakan lengkap yang dapat menekan biaya pakan sebesar 20-25%, tergantung jenis hasil samping industri pertanian yang digunakan. Dalam peningkatan infrastruktur, terdapat 6 bagian perbaikan perkandangan kambing yaitu desain lantai slatted, sistem penampungan feces, pengaturan pen, suplai air, pengaturan temperatur dan hal-hal kecil yang dapat secara nyata mempengaruhi produktivitas ternak kambing.

Korea juga tergatung dari importasi daging kambing untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Hingga saat ini konsumsi daging kambing di Korea masih sebagai makanan sehat, atau sebagai bagian dari ramuan makanan untuk tujuan pengobatan. Perubahan pola konsumsi daging kambing juga sudah mulai nampak ke arah seperti konsumsi daging sapi maupun daging babi, yaitu seperti grill dan bentuk olahan lainnya.

Pada mulanya peternakan kambing di Philipina sebagai usaha sampingan, namun sekarang telah tumbuh menjadi usaha yang mendatangkan keuntungan sehingga istilah Kambing adalah sapi perahnya orang miskin kini tinggal kenangan. Di Philipina terkenal dengan adanya Revolusi Kambing dimana bisnis peternakan kambing berkembang pesat memanfaatkan banyak lahan kosong. Perkembangan kambing perah skala komersial juga cukup maju dan telah ada industi pengolahan susu dan menghasilkan berbagai produk berbahan baku susu kambing kualitas export seperti sabun mandi, pelembab kulit dan lulur, disamping produk olahan lainnya.

Industri peternakan kambing (daging dan susu) di Taiwan sudah berkembang. Importasi kambing unggul dari luar seperti kambing Boer untuk disilangkan dengan kambing lokal (produksi daging), sedangkan Alpine, Saanen dipelihara murni sebagai kambing perah, dan Nubian dan disilangkan dengan lokal. Kebutuhan daging kambing dalam negeri Taiwan baru 12.6% dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Disisi lain produksi susu kambing cenderung menurun karena menurunnya tingkat kelahiran penduduk Taiwan yang mengakibatkan perubahan struktur konsumsi di negara tersebut. Diperlukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat dalam hal pola konsumsi daging dan susu kambing. Susu kambing adalah minuman yang sempurna. Kandungan kolesterol pada susu kambing (12 mg/100 ml) lebih rendah dibandingkan pada susu sapi (15 mg/100 ml), sehingga kekhawatiran terhadap isu kolestrol pada susu kambing janganlah berlebihan.

Berdasarkan makalah yang disampaikan dan diskusi yang berkembang, forum seminar telah berhasil merumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi sebagai brikut:

Pentingnya Peranan Produksi Kambing. Peran ternak kambing bervariasi antar Negara, dari yang bersifat subsisten sampai pada peternakan komersial dengan produknya yang bernilai ekonomis tinggi. Kebanyakan hasil peternakan kambing diperuntukkan untuk pasar domestik, bahkan masih diperlukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sebagian besar peternakan kambing di Asia masih merupakan peternakan kecil (rakyat) dengan sistem pengelolaan tradisional. Organisasi produksi masih perlu ditata lebih baik untuk terciptanya peternakan kambing yang lebih produktif, efisien dan berdaya saing tinggi.

Teknologi produksi yang lebih maju sudah tersedia untuk meningkatkan produksi dan efisiensi produksi ternak kambing. Breed kambing lokal di masing-masing Negara tersedia dengan kelebihan dan kekurangannya. Berbagai program breeding telah tersedia untuk meningkatkan produksi seperti seleksi dalam rumpun kambing sendiri ataupun persilangan (cross breeding), namun harus secara hati-hati agar rumpun kambing lokal tidak musnah.

Penggunaan breed kambing impor (eksotik) telah banyak dilakukan untuk tujuan perbaikan produksi daging maupun susu. Pemanfaaatan teknologi maju seperti inseminasi buatan, fertilisasi in-vitro dan embrio transfer dilakukan terbatas pada peternakan komersial maju. Disamping memanfaatkan bahan pakan konvensional, pemanfaatan produk samping hasil pertanian dan hijauan memberikan banyak keuntungan secara ekonomis maupun biologis. Teknologi untuk meningkatkan nilai gizi, kecernaan dan formulasi ransom ternak kambing telah tersedia dari hasil beberapa penelitian.

Dalam hal manajemen kesehatan hewan, pemanfaatan berbagai jenis tanaman obat merupakan alternatif yang diterapkan petani disamping obat-obat modern. Kastrasi kambing jantan merupakan teknologi yang tepat dalam meningkatkan produksi dan kualitas karkas.

Diseminasi teknologi maju untuk petani kecil. Peningkatan pengetahuan petani kembali (reeducation) dalam penerapan managemen yang baik, melalui pelatihan, pengembangan model peternakan kambing atau cara-cara lain yang bermanfaat bagi petani. Membangun dan mengembangkan pusat-pusat pembibitan (pemerintah atau komersial) sebagai sumber bibit unggul. Membangun proyek kerjasama antar pemerintah atau dengan organisasi internasional. Menerapkan prosedur penyuluhan dan bimbingan yang tepat melalui petugas penyuluhan. Komponen Penting untuk Produksi Kambing Berkelanjutan. Meningkatkan pengetahuan konsumen tentang daging dan susu kambing, dan sistem pemasaran yang baik. Mengciptakan kerjasama antara pemerintah dengan swasta komersial dalam membangun pusat pembibitan dan distribusi ternak unggul. Menerapkan program breeding jangka panjang yang tepat dan rencana implementasinya. Menyedianka kredit bagi petani. Memanfaatkan sumberdaya alam secara efisien dan bijak, seperti penerapan sistem produksi kambing yang terintegrasi dengan komoditas pertanian lainnya. Menentukan skala usaha yang ekonomis

Tindak Lanjut dari Seminar: Point ini masih memerlukan diskusi lebih inten sehingga belum dapat memberikan suatu konklusi yang tegas. Namun peserta sepakat untuk menjalin semacam net-working secara informal diantara peneliti peserta seminar


Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.